Golput = Menyengsarakan Rakyat! - Blog Penerbit Anlitera :: Jagonya Cetak Buku Murah Book Paper

Golput = Menyengsarakan Rakyat!

Terlalu Rumit Oleh: Luqman Abdurrahman Shaleh . Tahun ini adalah tahun politik. Rakyat Indonesia mulai bersiap-siap untuk pesta yang diad...

Terlalu Rumit
Oleh: Luqman Abdurrahman Shaleh
.
Tahun ini adalah tahun politik. Rakyat Indonesia mulai bersiap-siap untuk pesta yang diadakan tiap lima tahun sekali ini. Kesamaan pilihan akan menemukan teman baru, sahabat baru, bahkan keluarga baru. Meski ada beberapa yang justru saling benci. Tapi tidak banyak, hanya beberapa saja. Tidak perlu di blowup untuk mewakili keadaan sesungguhnya.
.
Dulu ketika masih belum genap berumur 17 tahun, saya memiliki pandangan 'agak rumit' tentang memilih seorang pemimpin negeri. Maklum, masih dalam proses pencarian jati diri dan secara psikologi tentu mudah berubah haluan ketika menemukan hal baru dan dianggapnya suatu kebenaran.
.
Bagi yang tidak menentukan pilihan, maka ia dianggap golongan putih, suci, atau 'sufi'. Tidak memilih pemimpin sama halnya menyelamatkan diri dari panasnya api neraka. Karena jika kita memilih dan pilihan kita ternyata berbuat dzalim, maka kita juga ikut serta didalamnya, ikut menanggung dosa, ikut dalam upaya sikap dzalim tersebut.
.
Sedangkan akan lebih aman lagi bila tidak memilih karena terhindar dari itu semua, lebih bersih, lebih putih, lebih suci, dan memiliki pola pikir seorang 'sufi'. Karena setiap tindakan akan dimintai pertanggungjawaban maka menjadi golput ialah pilihan terbaik.
.
Tidak. Itu bukan golongan putih tapi golongan hitam, bukan suci namun ternodai. Di negara kita, mereka yang paling banyak suaranya menentukan dialah pemenangnya. Bila pikiran-pikiran seperti ini muncul dan berkembang, maka orang-orang jahat akan meraih kekuasaan dan bertindak seenaknya terhadap negeri ini.
.
Sikap acuh saat pemilihan pemimpin negeri menandakan sikap acuh terhadap sesama saudara. Karena jika telah memilih dan pilihan kita salah, itu wajar dan diluar kendali kita. Namun bila tidak memilih, sama halnya mempersilahkan kedzaliman di negeri ini merajalela.
.
Berpikirlah realistis dan jangan terlalu rumit. Bijak tidak demikian. Bijak ialah mampu menempatkan sesuatu pada tempat semestinya. Bijak tidak memikirkan diri sendiri melainkan berpikir lebih luas dan mengutamakan para khalayak. Mari ikut berkontribusi dalam memilih seorang pemimpin negeri. Untuk Indonesia yang bermartabat, untuk indonesia yang ramah dan santun.
Disqus

Our Partners

Selama lima tahun, kami sudah bekerjasama dengan berbagai instansi, komunitas, maupun lembaga. Kepercayaan mereka adalah prioritas bagi kami.

  • Professionally Book Publisher
  • Melayani dengan ikhlas dan sepenuh hati kepada customer.
  • Proses pengerjaan naskah yang cepat tanpa menunggu lama.
  • Pengiriman tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan.