Benarkah Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah? - Blog Penerbit Anlitera :: Jagonya Cetak Buku Murah Book Paper

Benarkah Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah?

Survey yang dilakukan oleh UNESCO sungguh luar biasa. Hanya 1 diantara 1000 orang di Indonesia yang membaca buku selama satu tahun. UNESC...

Survey yang dilakukan oleh UNESCO sungguh luar biasa. Hanya 1 diantara 1000 orang di Indonesia yang membaca buku selama satu tahun. UNESCO tidak hanya sekali melakukan survey, namun hampir setiap tahun melakukannya. Hasilnya selalu sama bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Jika ada 130 negara di dunia yang di survey, maka Indonesia sudah pasti menempati posisi ke 129. Jika survey dilakukan di kawasan Asia Tenggara dan melibatkan 27 negara, maka Indonesia akan tetap berada diperingkat kedua dari bawah alias nomer 26. Bahkan lebih rendah dari negara Thailand, Filiphina, Hongkong apalagi Singapura. Sungguh hasil yang luar biasa.

Semua praktisi, pemerhati pendidikan, akademisi apalagi pejabat pemerintah jika berpidato selalu mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Tak terkecuali teman-teman wartawan dari media cetak sampai media elektronik juga mendukung apa yang sudah diberikan oleh hasil survey dan apa yang di ucapkan dalam pidato tersebut. Semakin memperkeruh keadaan.

Benarkah minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Jika ada yang bertanya demikian maka aku berani menjawab dengan lantang TIDAK. Siapa yang bilang minat baca masyarakat Indonesia rendah. Aku adalah orang pertama yang akan menentang pendapat itu. Aku akan pasang badan di barisan paling depan untuk mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia tidak rendah. Minat baca masyarakat Indonesia sangat tinggi. Itu adalah fakta yang ada di masyarakat. Aku bisa menunjukkan bukti nya. Mari kita buktikan.

[next]

Anda yang mengatakan minat baca masyarakat Indonesia rendah cobalah untuk berdiri di depan toko buku Gramedia. Dari buka jam 10 pagi sampai jam 9 malam coba dihitung berapa puluh, bahkan berapa ratus orang yang keluar dari toko buku Gramedia dan menentang tas plastik berisi buku hasil pembelian. Jika masih ragu, coba masuk dan tanyakan kepada kasirnya berapa eksemplar buku yang terjual sepanjang satu hari. Anda akan mendapatkan jawaban yang luar biasa. Jika minat baca masyarakat Indonesia rendah, maka sudah sepuluh tahun yang lalu toko buku Gramedia gulung tikar. Kebetulan saya berada di Malang, dan ada beberapa toko buku Gramedia di Malang. Semua selalu ramai oleh pengunjung dan kasir tidak pernah diam lebih dari 5 menit dalam melayani pembelian buku. Itu baru toko buku Gramedia saja, padahal masih ada toko buku lainnya dan juga toko buku bekas yang laris bak kacang goreng.

Coba kita hitung ada berapa jumlah majalah, koran, tabloid dan sejenisnya yang beredar setiap hari dari sabang sampai merauke. Dari harian Jakarta Post, Jawa Pos sampai Suara Merdeka. Lalu majalah mingguan Tempo, Femina, Kartini, Dewi sampai majalah anak-anak Bobo, Ananda, Donal Bebek sampai Kuark. Belum lagi majalah remaja Hai, Aneka, Gadis, Kawanku sampai majalah berkelas sejenis National Geography dan Intisari. Di Malang saja ada empat koran harian, dan itu oplahnya sangat luar biasa. Jika minat baca masyarakat Indonesia rendah maka Jakarta Post sudah bangkrut dari dulu. Bahkan Tempo tidak akan mengeluarkan dua jenis bacaan, Koran Tempo dan Majalah Tempo. Masihkan setuju dengan anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah.

Cari tau berapa eksemplar buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terjual. Anda akan geleng-geleng kepala mendapati jawabannya. Berapa juta Ayat-Ayat Cinta nya Kang Abik ludes di Gramedia. Berapa kali Aku nya Sjuman Djaya diterbitkan. Belum lagi Tetralogi pulau Buru nya Pram. Berapa kali Raditya Dika menulis buku dan cetak ulang hanya dalam hitungan hari, Moammar Emka dengan Jakarta Undercover nya sampai empat seri. Betapa abadi karya Hilman dengan Lupus, Mira W dengan buku-buku novelnya yang sudah dicetak puluhan kali. Belum lagi angkatan Djenar Maesa Ayu, Dewi ‘Dee’ Lestari, Ayu Utami sampai Asma Nadia dan Helfi Tiana Rosa. Dari Balada Si Roy nya Gol A Gong sampai 99 Cahaya Di Langit Eropa nya Hanum Salsabila Rais. Jika minat baca masyarakat Indonesia rendah, tidak akan ada profesi penulis di Indonesia. Andrea tidak akan kenyang dari Laskar Pelangi. Lupus tidak akan ada, Mira W tidak akan jadi terkenal. Pram akan hilang oleh waktu, Kang Abik hanya akan jadi santri dan uztad. Harry Potter dan Twiligt tidak akan terjual di Indonesia. Kenapa semua masih setuju dengan anggapan bahwa minta baca masyarakat Indonesia rendah.

[next]

Di Indonesia ada lebih dari 500 perpustakaan kota dan kabupaten. Ada 22 ribu lebih perpustakaan desa dan kelurahan. Belum lagi perpustakaan swadaya dan komunitas. Coba tanya kepada petugas dan pengelolanya, apakah ada perpustakaan yang tidak dikunjungi masyarakat. Tanyakan berapa jumlah anggotanya dan berapa jumlah pengunjung setiap harinya. Jawaban yang akan Anda dapatkan sungguh luar biasa. Di kota Malang (lagi-lagi saya mencontohkan di Malang, karena saya berada di Malang) ada perpustakaan Kota Malang. Setiap hari yang berkunjung tidak pernah kurang dari seribu orang. Ruangan perpustakaan selalu ramai, dari pagi hari ketika belum buka  sudah banyak anggota yang menunggu didepan pintu.

Bahkan menjelang jam 8 malam ketika perpustakaan akan tutup, petugas sampai merasa tidak tega untuk menutup perpustakaan karena yang membaca masih puluhan orang.

Di Malang (sekali lagi) selalu rutin diadakan bookfair, bazar buku, pameran buku dan sejenisnya. Setiap bulan selalu ada dan jumlah pengunjung selalu ramai. Stand penerbit dan toko buku tidak pernah merugi. Setiap tahun selalu meningkat. Ada Islamic Book Fair, Treegee Production, Buka Buku Production, Gramedia Bazar dan lainnya. Jika masyarakat enggan membaca maka tidak akan ada kegiatan bazar buku itu. Dan bazar buku juga ada di semua kota di Indonesia.

Jika Anda menonton acara Kick Andy di Metro TV coba perhatikan. Disetiap akhir acara bang Andy F. Noya selalu membagikan buku gratis kepada penonton di studio. Penonton yang dibawah kursinya ada pita berwarna hijau akan mendapatkan sebuah buku A karangan si B. Ketika bang Andy F. Noya mengatakan itu, sedetik kemudian seluruh penonton akan bingung dan riuh mencari pita hijau dibawah kursinya. Yang menemukan akan tersenyum dan bahkan lompat-lompat gembira, sedangkan yang tidak menemukan pita akan kecewa dan bilang : yahhhhhhhh. Masihkah ada yang ngotot bilang bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah.

[next]

Aku sudah 18 tahun mengelola Perpustakaan Anak Bangsa (selengkapnya silahkan membaca di esai: Kisah Inspiratif Perpustakaan Anak Bangsa, 18 Tahun Melayani Dengan Hati). Setiap hari ada minimal 50 orang yang datang ke Anak Bangsa, jumlah koleksiku sudah 50 ribu buku lebih, anggota perpustakaan sudah mencapai 8 ribu orang lebih. Ketika aku mengajak mereka membaca pasti tidak pernah menolak. Ketika aku berikan buku bacaan selalu menjadi rebutan. Bahkan untuk buku yang sedang ngetop, yang mau membaca harus antri sampai 200 orang. Di wilayah Malang Raya ada sekitar 70 perpustakaan komunitas dan swadaya seperti yang aku kelola. Semua dibaca masyarakat. Oleh karena itu aku selalu menentang jika ada anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah. Setiap aku perpustakaan keliling ke desa-desa pasti disambut dengan gembira. Jika pagi hari aku berangkat membawa 500 buku maka ketika sore hari aku pulang hanya akan tinggal 30 buku saja, sisanya ludes dipinjam masyarakat. Aku membawa 100 majalah untuk aku letakkan di sudut baca, di pangkalan ojek, di pasar, di stadion, di TPQ dan tempat ramai lainnya, semua akan langsung dibuat rebutan. Tidak ada ceritanya perpustakaan tidak dikunjungi masyarakat.

Rumah Dunia di Banten selalu ramai dengan anak-anak yang membaca. Cangkruk Pintar di Jogja tidak pernah sepi pengunjung. Warung Baca Lebak Wangi nya Bu Kiswanti selalu kekurangan buku. Kampung Batja binaan Pak Imam Suligi di Jember selalu melayani orang yang mau membaca. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Intinya minat baca masyarakat Indonesia sangat tinggi.

Lalu kenapa survey menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kenapa pejabat dan praktisi pendidikan mengatakan minat baca masyarakat Indonesia rendah.????
Jawabannya: KARENA TIDAK ADA BUKUNYA

Inilah masalahnya :
Perpustakaan pemerintah selalu di pusat kota, tidak tersebar ke pelosok daerah (desa). Jadi bukan minat baca masyarakat (desa) yang rendah, tapi masalahnya karena di desa tersebut tidak ada perpustakaan (buku bacaan).

[next]

Pada umumnya untuk meminjam buku di perpustakaan pemerintah sangat sulit. Harus membawa foto ukuran sekian cm sebanyak sekian lembar, membawa fotocopy KTP sekian lembar, membayar biaya administrasi sekian ribu. Pinjam buku maksimal 2 eksemplar, jangka waktu maksimal satu minggu, jika lebih dari satu minggu maka kena denda sekian ribu setiap satu buku. Perpustakaan buka jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Padahal jam itu orang-orang masih kerja. Dan seribu satu peraturan lainnya. Inilah yang membuat orang malas datang ke perpustakaan. Karena peraturan yang justru menghalangi masyarakat untuk meng-akses bacaan. Jika semua perpustakaan buka 24 jam, gratis, bebas dan tanpa aturan yang berbelit-belit, maka semua orang akan datang ke perpustakaan untuk meminjam buku dan membaca. Jadi masalahnya bukan minta baca masyarakat Indonesia yang rendah, tapi masalahnya adalah karena untuk meng-akses bacaan itu sulit dan ribet.

Pejabat dan praktisi pendidikan yang berpidato dan mengatakan bahwa minat baca masayarakat Indonesia rendah (termasuk Anda yang berfikiran demikian) karena mereka (dan Anda) tidak mau berbagi buku dengan orang lain. Ada jutaan orang di Indonesia yang rutin membeli buku. Ada ribuan pejabat yang punya perpustakaan pribadi di rumahnya. Dan sudah menjadi hukum alam bahwa pecinta buku dan pengoleksi buku yang sangat bagus sekali itu pelit meminjamkan bukunya kepada orang lain. Jika saja semua orang (pejabat dll) bersedia meminjamkan (apalagi memberikan) bukunya pada orang lain maka semua orang pasti mau membaca.

Jika buku yang tersusun rapi di perpustakaan pribadi-pribadi itu dibuka untuk umum dan gratis maka semua orang pasti datang untuk membaca. Masalahnya mereka yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah, justru tidak mau meminjamkan bukunya kepada orang lain. Jadi masalahnya bukan minat baca masyarakat Indonesia yang rendah, masalahnya adalah rendahnya kepedulian kita pada orang lain yang ingin membaca buku. Karena yang punya buku itu pelit dan hanya menyimpan buku di ruangan perpustakaan pribadinya saja. Takut bukunya hilang dan rusak. Sehingga menganggap orang lain yang tidak membaca itu minat bacanya rendah.

Akhirnya, ayo kita revisi hasil survey. Mari kita luruskan pandangan dan pendapat. Jangan lagi mengatakan minat baca masyarakat Indonesia yang rendah. Karena yang rendah adalah fasilitasnya dan ketiadaan buku yang akan dibaca serta kepedulian orang yang punya buku tersebut. Bukan minat baca yang rendah, tapi YANG DIBACA HARI INI APA. Jika menyuruh orang lain membaca buku maka mana bukunya.

Oleh: Eko Cahyono (Pendiri Perpustakaan Anak Bangsa)
Disqus

Our Partners

Selama lima tahun, kami sudah bekerjasama dengan berbagai instansi, komunitas, maupun lembaga. Kepercayaan mereka adalah prioritas bagi kami.

  • Professionally Book Publisher
  • Melayani dengan ikhlas dan sepenuh hati kepada customer.
  • Proses pengerjaan naskah yang cepat tanpa menunggu lama.
  • Pengiriman tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan.