Jalani Prosesnya Sepenuh Hati - Blog Penerbit Anlitera :: Jagonya Cetak Buku Murah Book Paper

Jalani Prosesnya Sepenuh Hati

Ingin lekas menjadi lebih baik butuh proses. Layaknya kupu-kupu. Dari telur lalu menjadi ulat. Tak pernah ditemukan kupu-kupu hadir tanpa...

Ingin lekas menjadi lebih baik butuh proses. Layaknya kupu-kupu. Dari telur lalu menjadi ulat. Tak pernah ditemukan kupu-kupu hadir tanpa proses menjadi kepompong atau loncat tanpa jadi ulat. Begitu pula dengan proses hijrahmu. Emosi dan ketergesaan agar lekas berubah total bukan jalan baik. Misalnya langsung membaca al-Quran seharian suntuk. Hingga munculah sifat bosan dan akhirnya kembali ke masa kelam.

Kisah dibawah ini akan memberikan gambaran bagaimana proses hijrah harus dijalani penuh kesabaran, tekun dan sepenuh hati. Ketergesaan, terburu-buru hanya akan menyulut emosi dan pada akhirnya setan mampu masuk disela-selanya. Karena emosi identik dengan api, dan api adalah bahan penciptaan setan.

Suatu pagi di hari Minggu, setelah mengenakan jilbab instan, Dini mengeluarkan motornya. Setelah duduk diatas motor dan akan menyalakannya, dia kebingungan karena tidak ada kunci dimotornya. Dini kebali membuka pintu pagar, masuk ke dalam rumah, mencari kunci motornya. Setelah kembali duduk diatas motor, dia teringat tidak membawa dompet. Dini, kembali membuka pintu pagar, mencari dompetnya. Dini membuang napas, entah berapa waktu terbuang karena lupa dan tergesa-gesa.

Seperempat jam berlalu, Dini kembali ke rumahnya, membawa bahan makanan, sayur kangkung, ikan kembung, cabai dan tomat. Suara cobek dan ulek-ulek beradu. Dini menghaluskan cabai, bawang merah, bawang putih, terasi dan tomat. Bawang merah melompat, terlempar dari cobek. Dini kembali membuang napas. Dilemparnya bawang merah yang jatuh, ketempat sampah. Dini kembali memukul-mukul bahan sambal dengan ulek-ulek. Setelah pipih, dia menghaluskannya. Keringat di dahi Dini menetes sambil berpeluh emosi.

“Huh, ngulek sambal gini aja kok nggak bisa halus sih!” gerutu Dini.

Di sela-sela mengulek sambal, Dini menggoreng ikan kembung, hampir saja ikan kembung gosong karena terlalu lama dipenggorengan. Dan, dia pun menumis kangkung. Dini kembali melanjutkan mengulek sambal. Tapi, sepertinya sambal tidak juga halus, masih sangat kasar. Dia menekan ulek-ulek sekuat tenaga, tapi sambal tetap saja kasar bercampur emosi, hingga napasnya nampak tersengal-sengal.

Beberapa menit kemudian, dengan wajah masam Dini menyudahi mengulek sambal, walaupun ulekan sambalnya masih kasar. Ikan kembung sudah kering. Nasi sudah matang di rice cooker. Tumis kangkung telah terhidang di pinggir saji. Dan sambal pun dianggap telah selesai. Di hadapan Dini dan Arif, telah terhidang dua piring nasi beserta ikan kembung goreng, tumis kangkung dan secobek sambal buatan Dini.
[next]

“Sepertinya ada yang kurang sama sambalnya” kata Arif. “Enak sih, tapi ulekannya kasar, gak halus, sepertinya asal ngulek. Nguleknya tidak sepenuh hati” ujar Arif ringan.

“Tahu dari mana ngulek dengan hati atau enggak? Yang penting sambalnya enak, ulekanku ya gitu kasar, biar beda sama blender, kalau mau halus ya sudah besok sambalnya diblender saja, nggak usah pakai ulekan. Lagi pula aku ngerjakan semuanya sendiri, buat sambal, tumis kangkung, goreng ikan kembung” omel Dini.

“Kalau nguleknya sepenuh hati, kalau kubilang ulekannya kasar, pasti nggak akan marah. Kan nguleknya pakai cinta. Kalau sekarang marah, berarti nguleknya nggak sepenuh hati, nggak pakai cinta juga” goda Arif sambil melirik ke arah istrinya.

Dini hanya diam sambil memajukan bibirnya kedepan.

***

Lebaran tiba, saatnya Dini bersilaturahmi ke rumah neneknya. Pagi itu, di meja telah terhidang masakan nenek.

“Wah, sayur asem, tahu, tempe, sama sambal, hmm” mata Arif berbinar melihat makanan yang tersaji. “Enyak Nek, enyak” puji Arif dengan mulut masih mengunyak makanan.

Nenek hanya terkekeh sambil berkata, “Adanya Cuma itu tahu, tempe, sama sambal dan sayur asem”

Arif membersihkan mulutnya dengan tisu, “Sambalnya enak sekali lho Nek, pasti nguleknya sepenuh hati dan cinta”

“Nyindir? Ngadu saja sama Nenek, kalau aku emang nggak pinter ngulek!” ujar Dini jengkel.

“Bukan ngadu, tapi ngulek sambal itu juga ada ilmunya, ada seninya, dan taste-nya, ada hati dan cinta saat ngulek sambal” imbuh Arif panjang lebar.

“Dini Cuma belum biasa saja ngulek sambal. Nanti kalau sudah biasa ulekan sambal Dini pasti juga enak” bela Nenek pada Dini.

Dini hanya diam. Dia mengakui kalau sambal buatan nenek jauh lebih enak dari sambal buatan Dini. Ulekannya pun sangat halus, tapi tidak cair seperti sambal hasil blender. Mungkin memang benar apa kata nenek, Dini belum terbiasa mengulek sambal. Sementara, nenek sudah berpuluh tahun mengulek sambal setiap hari. Dini membersarkan hatinya.

***

Tapi, Dini penasaran juga. Pagi-pagi sekali, Dini ke dapur melihat nenek sedang mengolah masakan di dapur, termasuk aktivitas mengulek. Dia memperhatikan nenek mengulek dari kejauhan, melihat kelembutan nenek memegang ulekan. Tekanan tangan nenek antara ulekan dan cobek sangat kuat, tapi juga lembut. Kekuatan yang tidak disertai dengan emosi dan tentu saja sama sekali tidak ada ketergesaan. Cepat, kuat namun tidak tergesa-gesa.
[next]

Dan, saat mengulek sambal pun nenek masih melihat menyunggingkan senyumnya yang manis. Dini mengingat dirinya saat dirumah, ketika sedang mengulek sambal. Berbeda sekali, Dini begitu emosi penuh amarah saat mengulek sambal. Dia pun begitu tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan pekerjaannya mengulek sambal. Dini tidak bisa menikmati proses mengulek sambal.

“Wah, Nenek kalau sedang ngulek terlihat cantik” puji Dini.

“Cantik?” Tanya Nenek kebingungan.

“Iya cantik. Nguleknya penuh perasaan, dihayati. Pantas sambal ulekan nenek enak dan halus” puji Dini. “Aku malu nek, masih muda tapi ngulek sambal saja nggak bisa. Bawangnya sampai loncat, kabur dari cobek” keluh Dini.

Nenek terkekeh mendengar penjelasan Dini. “Din, ini bumbu buat ayam. Nenek belum ngulek sambal, itu bahan sambal sudah disiapkan dicobek satunya. Dini yang ngulek ya” pinta Nenek.

“Pasti nggak seenak sambal buatan Nenek. Nanti dicela sama mas Arif.” Kata Dini meragukan dirinya.

“Ayo, diulek sana, pasti bisa” senyum nenek memberi semangat.

“Bismillahirrohmanirrohim” doa Dini. Tangan kanan Dini menggerakkan ulek-ulek, menghaluskan cabai, bawang merah, bawang putih, terasi dan tomat. Bibirnya menyunggingkan senyum.

Dini akan berusaha untuk menikmati proses mengulek sambal, berusaha untuk mencintai proses mengulek sambal dengan sepenuh hati. Dini percaya bahwa ulekan sambalnya akan terasa nikmat.

“Kalo bikin sambal itu kayak Nenek gini yang enak.” Ujar Arif. Ia tidak tahu jika yang mengulek sambal adalah istrinya sendiri. Dini dan Nenek saling bertatapan dan tertawa lirih.

Jelas sudah kisah diatas menjadi pelajaran bagi kita dalam proses berhijrah. Ketika kita ingin semuanya sukses dan baik-baik saja, maka nikmati setiap tahap yang dijalani. Tidak perlu terburu-buru dan memforsir diri menjadi sangat sangat baik. Disetiap tahap, kamu akan temukan banyak hikmah, pelajaran berharga, yang membuatmu memiliki pengalaman religi menuju jalan kepada-Nya.

Siapa juga yang tak ingin sukses secara instan. Semua orang pasti mau. Bahkan ketika kamu berhijrah pun ada keinginan agar cepat menjadi sangat baik. Hal ini justru akan jadi biang keladi dalam proses itu sendiri. Mungkin saja engkau mampu hijrah dengan pandangan mata melalui penampilan dan ibadah yang kamu tunjukkan. Tapi dalam hatimu ada emosi, sulutan amarah, ambisi begitu kuat, dan ini tak akan membuat hidupmu menjadi tenang.

Karen Lawson, MD salah seorang professor di University of Minnesota mengatakan bahwa emosi berdampak buruk bagi kesehatan mulai dari tekanan darah tinggi, stroke, nyeri punggung, diabetes, dimensia hingga kanker. Oleh karenanya, hilangkan sedikit demi sedikit sulutan emosi dan amarah dalam proses hijrahmu. Ambisi dalam berhijrah pun juga tidak baik. Sebab Allah lebih menyukai orang yang tekun beribadah, istiqomah daripada tidak pernah lalu pada akhirnya beribadah sangat banyak. Seperti sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, “ahabbul a’maali ilallahi adwamuha wa in qalla” – perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun hanya sedikit.

Sedikit amal jika dilakukan secara rutin dan terus-menerus tanpa emosi dan ambisi lebih baik kata Rasulullah. Jangan mengejar suatu ibadah (dalam proses hijrahmu) sampai letih pada suatu waktu, lalu kita tidak sanggup lagi melakukannya diwaktu lain karena bosan atau godaan hawa nafsu. Allah juga berfirman, “Janganlah kamu berlaku seperti seorang wanita yang memintal kain lalu merusaknya lagi setelah bersusah payah memintal dengan bagus” (QS. An-Nahl ayat 92).

Bertahap dalam proses hijrah. Dalam artian tidak perlu tergesa-gesa. Nikmati tahap demi tahap dengan sepenuh hati. Ketika mejalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari suatu yang kecil namun rutin dilakukan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan, kesabaran, melepaskankan emosi dan amarah inilah yang inshaAllah menjadi cikal bakalnya keistiqomahan dalam hijrahmu ini.

Oleh: Luqman Abdurrahman Shaleh
Disqus

Our Partners

Selama lima tahun, kami sudah bekerjasama dengan berbagai instansi, komunitas, maupun lembaga. Kepercayaan mereka adalah prioritas bagi kami.

  • Professionally Book Publisher
  • Melayani dengan ikhlas dan sepenuh hati kepada customer.
  • Proses pengerjaan naskah yang cepat tanpa menunggu lama.
  • Pengiriman tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan.